PIP Berikan Pelatihan Literasi Digital Kepada Para Pelaku Usaha Mikro

Pandemi covid-19 di Indonesia belumlah berakhir, terhitung sudah tujuh bulan sejak pemerintahan mengumumkan dua kasus pertamanya pada tanggal 2 Maret 2020

Sejak itu berbagai upaya penanggulangan dilakukan pemerintah untuk meredam dampak dari pandemi covid-19 di berbagai sektor. Bukan hanya pada kesehatan saja yang berdampak tetapi hampir seluruh sektor mengalami dampak serius akibat pandemi virus corona, salah satu nya yaitu pada sektor ekonomi global

Di tengah pandemi, pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) bukan hanya saya saja yang  merasa sedih akibat peraturan ini, bahkan banyak karyawan yang terpaksa dirumahkan tanpa harus digaji, para pelaku usaha mikro harus dibatasi jam operasional sehingga berkurangnya para pembeli, bahkan yang lebih menyedihkan banyak pelaku usaha mikro yang harus gulung tikar. Sebenarnya selama pandemi ini berlangsung banyak sekali pelaku usaha yang mengalihkan penjualannya secara online tetapi tidak bisa dipungkiri masih banyak pelaku usaha yang belum membuat media sosial, atau sudah ada yang punya tetapi tidak bisa mengoperasikannya

Picture by Pixabay

Oleh karena itu, salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk memastikan kehidupan sosial dan ekonomi bisa terus berjalan yaitu dengan cara memberikan pelatihan literasi digital bagi pelaku usaha mikro untuk menjangkau pasar yang lebih luas


Tentang Pusat Investasi Pemerintah

Pusat Investasi Pemerintah (PIP) merupakan unit organisasi non eselon dibidang pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Pembendaharaan. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, PIP menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum

Melalui Pusat Investasi Pemerintah Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan memberikan literasi digital bagi pelaku usaha mikro sebagai salah satu jalan keluar bagi bisnis dari konvensional ke digital yang diharapkan dapat membantu pelaku usaha mikro untuk menjangkau pembeli yang selama ini tidak tergarap

Picture by PIP

Tema yang diberikan pada program pendampingan dan pelatihan yaitu Penanganan media sosial, Cara bergabung di marketplace, dan Membuat kemasan produk yang menarik. Lalu bagaimana cara bergabung dalam pelatihan tersebut?

1. Pelaku usaha mikro mendapatkan pembiayaan UMi (Ultra Mikro) melalui penyaluran

2. Memiliki usaha yang produktif

3. Memiliki komitmen dan keinginan belajar yang tinggi


Pelatihan Literasi Digital

Picture by PIP

Kemarin, (17/9) dalam acara media talkshow via daring yang diadakan oleh PIP, Direktur Utama Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Ririn Kadariyah menuturkan dengan beralih ke digital, debitur Ultra Mikro (UMi) dapat menjangkau calon pembeli yang tidak dapat datang langsung ke tempat usahanya dan memperluas pasar mereka. Namun demikian, banyak kendala yang dihadapi para pelaku usaha ini untuk beralih dalam memasarkan produk secara digital


“Namun kurangnya pengetahuan dalam menggunakan sosial media secara maksimal, baik dari sisi fotografi produk yang menarik, penulisan caption yang mengundang rasa ingin tahu pembeli, perluasan jangkauan calon pembeli, dan lain sebagainya,”

 

Untuk itu PIP dalam kapasitasnya sebagai Badan Layanan Umum yang menyalurkan pembiayaan UMi mencari jalan keluar terhadap kendala yang dihadapi oleh para pelaku usaha mikro ketika terjun ke dunia digital. Oh iya, Sebagai Badan Layanan Umum (BLU), PIP juga melaksanakan koordinasi dana (coordinated fund) pembiayaan Ultra Mikro (UMi) dengan memberikan fasilitas maksimal Rp10 juta kepada debitur yang selama ini tidak dapat mengakses pembiayaan perbankan dan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Untuk memudahkan dan mempercepat penyaluran, UMi disalurkan melalui Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dengan pola langsung (one step) atau two step melalui linkage koperasi/lembaga keuangan mikro


"Lebih dari separuh (54%) penerima manfaat kredit UMi mengambil pinjaman senilai Rp2,5 juta dengan mayoritas (89%) tenor pinjaman yang diambil adalah antara tujuh bulan hingga setahun. Sementara pelaku usaha mikro yang memanfaatkan UMi sebagian besar adalah perempuan (93%) dengan usia di atas usia 40 tahun (58%). Melalui kredit UMi diharapkan terjadi kemandirian usaha di seluruh masyarakat,"

 

Hingga Semester I 2020, PIP telah menyalurkan kredit Ultra Mikro (UMi) senilai Rp 7.038.961.333.211,- bagi 2.257.021 di 464 kab/kota di 34 provinsi melalui 43 mitra penyalur (linkage) Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) berbentuk koperasi maupun BUMN yang bergerak di bidang jasa keuangan seperti, PT. Pegadaian (Persero), PT. Bahana Artha Ventura, serta PT. Permodalan Nasional Madani (Persero), yang sumber pendanaannya berasal dari APBN, hibah serta kerjasama pendanaan dan investasi.

Dalam program pendampingan dan pelatihan ini, PIP menggandeng Jagoan Indonesia untuk meng-upgrading metode pemasaran secara online bagi pengusaha UMi. Menurut Dias Satria selaku founder Jagoan Indonesia mengatakan, terdapat tiga hal yang mereka kembangkan yakni: Social Media Handling, dimana para peserta pelatihan akan didampingi oleh mentor dan tim untuk melakukan penetrasi pemasaran melalui sosial media Instagram dan menawarkan produk mereka di marketplace. Kemudian, Connecting to marketplace, tim mentor akan membantu peserta memfasilitasi dan mengoptimalisasi pembuatan akun marketplace, Google Business, dan lain-lain. Terakhir, Design Packing, pembuatan desain kemasan bagi peserta pelatihan agar lebih menarik dan menunjang penampilan produk bila dijual melalui penjualan online

Pada acara media talkshow via daring juga menghadirkan beberapa penerima manfaat kredit UMi seperti:

Rofik Purniawati, Rofikves pemasok jamur Putih, dari Semarang berbagi cerita bahwa tidak mudah mengikuti kegiatan ini karena merupakan hal baru, namun pihaknya menyadari untuk maju dibutuhkan kemauan
untuk belajar


"Kami berharap dengan mengikuti pendampingan, usaha kami bisa lebih maju dan menjangkau pasar yang lebih luas.”

 

Dia menuturkan upaya merintis usaha jamur putih merupakan upayanya untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Adanya bantuan kredit ultra mikro membuat usaha budidaya jamur ini dapat  berjalan dan mulai diterima oleh pasar di kota Semarang

Senada dengan hal tersebut, Yuyun Wahyuni Nadena Hijab, dari Yogyakarta menuturkan adanya kredit ultra mikro membuat bisnis hijab yang dia kembangkan dapat lebih berkembang apalagi dengan adanya pendampingan memanfaatkan sosial media


“Bisnis kami memang masih skala kecil. Pasar juga masih terbatas namun dengan adanya bantuan modal dan pelatihan online ini, bisnis kami berkembang lebih cepat karena lebih banyak orang menjadi tahu adanya produk Nadena Hijab,”

 

Semoga dengan adanya program pendampingan dan pelatihan dari PIP dapat merangkul banyak pelaku usaha mikro, dan memberikan peluang lebih besar lagi untuk menuju kesuksesan bersama

5 komentar

  1. Jjika ada yang bilang lebih baik menjadi bos dengan usaha sendiri daripada menjadi karyawan di perusahaan orang lain, so ini menjadi solusi yaa buat para enterpreuner mudah untuk mengembangkan sayap nya

    BalasHapus
  2. Bisa mensukseskan usaha kecil dengan program ini ya moms. Keren banget deh pemerintah sekarang ❤❤❤

    BalasHapus
  3. Ini ternyata ini perusahaan milik negara ya. Dibawah kementrian keuangan

    BalasHapus
  4. Iyah seru yah kemarin, bener bener fun talk Dan menginspirasi aku

    BalasHapus